Dentingan logam dan kaca tak berarti Memecah sepi, dalam perenungan malam Ah, mungkin angin lewat Ah, masa bodo Dentingan lagi satu dua kali Menggila apa entah tak pasti Tetapi, iyakah perundakan tetap menunggu sepi? Mungkin lelah terlalu lelah Sampai remuk tubuh tak ingin dikejar Sampai hangus tulang tak jua dipuja Sampai kering asa tak jua dikeluhkan Mungkin jenuh terlalu jenuh Sampai peradangannya jua tak ubah Sampai kesendiriannya jua tak ingat Ah, mungkin jenuh pula benak dalamnya Masa bodo insan intelektual Tak gerak, tak pindah jemari tangannya Masa bodo lidah-lidah kebijakan Tak tahu di luar jendela, tak tahu di balik pintu Ah, masa bodo dunia Sampai perenungannya hilang dari perenungannya Sampai asa mungkin tak lagi asa Sampai kicau bibir-bibir manis pudar dari telinga
Mungkin hari-hari lalu Hati tak berkaca Mungkin hari-hari lalu Jiwa masih dalam pelayangan Mungkin hari-hari lalu Desah napas masih angkuh Sadar tak sadar, jiwa Muslihatmu selimuti pelupuk mata Mengaku tak mengaku, hati Angkuhmu tak sadarkan persendian Peluh? Mana peduli Air mata? Jangan harap ia datang Keluh kesah? Bahkan masih malu-malu Ah, bungkam saja kau berani Fana. Berani dalam fana Ah, enyah saja kau tangguh Palsu. Tangguh dalam kepalsuan Biarlah bibir-bibir penguasa bertitah apa Beda pula titah kemarin dan hari ini Jenuh, jenuh benak dalamnya Penat, penat kerut dahi bersamanya Mungkinkah? Mungkinkah hari ini waktu panggil air mata? Bisakah? Bisakah peluh lepas bebas dari kelenjar sebentar lagi? Yakin? Sudah yakin lidah keluh kesah hendak bercerita selepas ini? Bahkan, bahkan hati ingin berganti cerita kalau bisa
Menyambangi ranah baru emang gak mudah :"( Makan tenaga, hati, pikiran. Padahal ini masih bakal dijalani sekiranya minimal satu setengah tahun ke depan. ya…hanya bisa menyemangati diri sendiri ~ Entah. Kamu memang sudah kehilangan ‘rumah’ dua kali. Tapi, siapa tau ini adalah rumah yang kau maksud itu, Fal. Meskipun bukan dalam konteks yang lebih formal dan terikat. Wallahu a'lam. Allah yang paling tau bagaimana caranya supaya kita terbina, supaya kita berkembang, supaya kita semakin dewasa. Ya.…lagi-lagi, hanya bisa menyemangati diri sendiri~
Komentar